Rabu, 25 Juni 2008

Goroh-Goroh Limbux An Yin

WayangNet versi R.1.
  • Oleh : Ki Dalang Gemblung Semar Mendem OKNO
  • Lakon : Semar Jadi Duta Besar
Wong kok podho umeg saja di seputar Monyas...lebih baik hayo kita nanggap Wayang Ngenet dalam rangka mengenang 7 hari mbablasnya NJAWI dari ngalam pada. Monggo dinikmati sambil unyel-unyel e-mos ngemos yuuukkk....
Hening...ning nong ning nong ning gung Romo Semar Badranaya dalam kamar yang sepi tak berlampu karena disegel pe el en karena nunggak gak bisa bayar. Dalam kesunyian dan keheningan di luar terdengar sayup-sayup merdu suara-suara akan kemerdekan, kebablasan dan dukungan harga trasi tuk dinaikkan. Romo Semar terusik dari alam kesendiriannya tuk mencari uWang Sit alias jatah gaji yang tak kunjung cair karena sang Juragan Harjuno sedih jatah kursinya direbut saudara ksatrianya dari Negeri angin Kurawa hingga gajian mesti ditunda.

Anak-anak Ki Semar pergi entah kemana, menurut telik sandi air bah itu mereka ikut aksi damai peduli kasih bangsa. Hingga tiba-tiba datanglah Bagong dengan tergopoh-gopoh setor upeti katanya dapat dari aksi peduli kasih tuk merebut Kemerdekaan.

"Wo....bangun Wo...ini aku dapet rejeki lumayan lho wo bisa buat bayar listrik....", kata Bagong dengan bibir domble dan air ubelnya yang berwarna hijau karena pileks. Karena iba melihat Bagong dengan ilernya romo Semar berkata :"Dapet dari mana uang ini Gong...", begitu lirih bait kata-kata Semar karena terpaksa harus jatah makannya dietung-itung alias DIET kepaksa.
"Dapet ongkos diajak Limbux ke Taman Ngancol, Wo...", jawab Bagong polos.
"Lhooo...dari Ngancol kok kepalamu bocor kayak kenak botol?", tanya Semar
Bagong : "Ya ndak tahu wong dari Ngancol karena udah mau sore aku mau diajak ngamar di Hotel Ha iye to, Mo.....eehhh......mak ujug-ujug....aku dipenthungi....".
Semar : "Lha kok bisa?"
Bagong : "Ya embuh....Gareng sama Petruk malah ngluyur kendiri-diri...aku laper Wo...."
Semar : "Mmhhh...bleg..gebleg ugek-ugek.....siapa yang berani memukul anakku Bagong yang ganteng gini? Hayo Gong katakan pada romo siapa yang telah membuat membotolnya kepalamu ini hingga membenjut gini???", tanya Semar dalam menahan amarah melihat goresan kepalanya yang sak nggaris mlipis necis.

Bagong dengan selembar uwangsit yang sangat berharga senilai beras 3 kilo itu sambil meringis mesra tatkala Semar dengan segala aneka sumpah serapahnya hingga air mancur dari mulutnya muncrat-muncrat di kepalanya dan Bagong nyengir perih.....Dalam sumpah serampah bak patih Gajah Modo dalam Amukti Palapa, datanglah Gareng dengan kondisi terhuyung bingung, karena matanya yang sudah kero (juling) tertutup kacamata mata Rai Ben, ditambah kakinya yang ndek wur alias tinggi sebelah berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar pertapan Semar Mendem....Sambil menyodorkan kastul ehh..pes entul pistool......gareng menyodorkannya kepada Semar. Dengan menyodorkan kastul itu Semar langsung angkat tangan....
Gareng : "Kepiye ini Semar kok angakat tangan? Ini lho wo....tak kasih oleh ngoleh dari Taman Montho kok sampeyan malah lho-lho bah, piye sampeyan iki?"....
Semar : " Asyeeemm....tak kira kowe mau nodong minta bagian duwitnya Bagong ini.....hehehe.....mana-mana sini tak simpennya..."
Tiba-tiba....sekonyong-konyong koderrrrr.....sik...sik......dalangnya lagi kebelet pipis nih....bentar di lanjut yaa....

Ini saja dibaca dulu suluk Ki Dalang OKNO Gendeng tuk menghemat pulsa muter uro-uro hasil rekamannya di Javanese Motion alias NJAWI yang dihewes-hewes bablas grup pe...monggooo..

Ontran-ontran alias kerusuhan sosial budaya sebagai akibat runtuhnya suatu sistem pemerintahan yang amburadul dan tak terkendali. Korupsi sudah menjadi hal yang wajar, yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Perampok dan bajingan tampil menjadi sosok pemimpin yang kharismatik dan diagung-agungkan, hingga rakyat sudah tidak bisa membedakan mana pahlawan dan mana penjahatnya. Semua pihak saling memperebutkan harta, tahta dan wanita tanpa mempedulikan etika, agama dan tatanan yang sudah disepakati bersama. Lalu gamelan itu lirih...hening,,,,ning....ning...., mengalun pelan merambat sekujur tubuh pemirsa. Di saat kondisi genting itu sang radja malah mukso mokal tinggal colong playu, hingga alunan merintih suara sinden ini melengking mewakili suara rakyat yang kehilangan pemimpinnya. Serasa tenggelam dalam gemuruhnya gunung meletus di sana-sana dan bencana alam semakin tak tak mau mengerti jeritan dan teriakan kesakitan manusia-manusia yg sudah kehilangan jati dirinya. Dalam suasana seperti itu terdengar satu alunan kidung yang perih menyanyat hati:
------------------------------------------------------------------------------------
Ada kidung yang digubah di malam hari
Tetaplah kuat terhindar dari penyakit
Terhindar dari semua bencana
Jin dan setan enggan
Segala macam teluh tak ada yang berani
Begitu juga kejahatan
Yang dilakukan orang yang salah jalan
Bagaikan api tersiram air
Malingpun tak ada yang mendatangiku
Semua niat jahat akan sirna
....hhhhheerrrrr......keeerrrr....weeerrr...,,,,,
----------------------------------------------------------------------
sudarjanto
sudarjanto Iki sambungane:
Pupuh Sinom:
Apuranen sun angetang, lelembut ing nusa Jawi kang rumeksa ing nagara,
para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi yen eling sadayanipun, pedah
kinaya tulah, ginawe tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa

Demit Okno,Demit Nggambleh,Demit Bunkem,Demit Amaltigunawan,Demit Tulus,lan para Dhedemit Tanah Jawi Kabeh ayo padha kumpul
----------------------------------------------------------------------------------
ooonggg ...langit gonjang ganjing...
wong wedok wis orak eling.....oooo oo o ongggg....
klambi apik-apik disuwek-suwek dadi modeling....
awan dadi bengi ...bengi dadi awan!!!!
he eeeee.....kkeeeerrr
hopo tumon, iki jaman kasunyatan "ora udan wong podo payungan"
awan-awan padang njinggrang lampu cemlorot saben dalan......

he e e e.....eeeidaaan!!! gemluduk tanpo wujud....gemlodak tanpo rupo....humel..mel
oooiiiiii lha dalah sopo kuwi?
Bahasa Indonesianya :
Ya Tuhan, kenapa petaka dan alam ini silih berganti?
Kenapa baju indah mempesona ini mesti dirobek-robek untuk menuju Indah...demi mengikuti mode....
Siang jadi malam...malam bak siang hari
Keeerr.....heer....(gemuruh amarah)
Inikah pertanda jaman....., tiada hujan semua orang berpayungan
di siang bolong di setiap lorong jalan meliku semua harus dan wajib nyalakan lampu?
-----------------------------------------------------------
Alunan gamelan itu masih bergemuruh, kendang digeplak hingga bodoool...sang wayang disobek-sobek oleh penonton karena menjadi rebutan....bahkan kain batik sinden yang aduhai itu tak luput menjadi ajang jarahan yang semakin menggilaaaaa...hingga mau di bawa ke meja hijau, higga akhirnya sang sinden semakin meringis kesakitan karena sang dalang juga sudah sigar lambenyaaaa..........penonton semakin beringas tidak puas dengan sajian Ki dalang ini akhirnya terjadilah perebutan tampuk kekuasaan atas kursi dalang yang vacum itu.
oooooong...langit kelap kelap keliiipppp....mego mendung gemludug kludug-kludug!!!
Dalam suasana pemerintahan yang kosong di panggung wayang itu maka tampilah sosok atau tokoh-tokoh punakawan yang sudah asing di mata anak-anak negeri ini (dalam versi maya pada ini dilambangkan sebagi wakil atau suara rakyat yang dipimpin oleh Ki Semar Badranaya) untuk menemukan sosok pemimpin negeri yang ideal di Negara Astinapura:
tulusjogja
Amrih samubarang nir ing sambikala,
saking ngayogya kepareng kula bade kirim donga tolak balak...kanti rerepen punika
Singgah singgah kala singgah,
tan sumingkir durga kala sumingkir,
sing ngasirah sing ngasuku,
sing ngawulu sing ngabau,
sing ngatenggak kalawan buntut,
sing ngatan kasat mata,
muliya ing asal neki….

Hingga akhirnya tambil si lesmono wuyung dengan setenggak anggur merah sambil merayu pembantunya......
enthiiiiieett...ee ee eeetttttttt....
sing nggambleh mleweh-mleweh kuwi sopoooooo oo oooo??

Monggo dikaji dalam dunia kekinian...
Note tulisanku ini sambungan dari beberapa blog dan situskus dan sebagai kenang-kenangan NJAWI :

Tidak ada komentar:

OKNO's BLOGS Shared

Pekan Pameran